BKKBN Sebut Pernikahan Dini di Papua Barat Masih Tinggi

0
41
  • 3
    Shares
Buku Nikah (ilustrasi)

MANOKWARI, SERUJI.CO.ID -Pernikahan usia dini di wilayah Provinsi Papua Barat masih cukup tinggi dengan usia rata-rata antara 15 hingga 19 tahun.

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Papua Barat, Benyamin Lado di Manokwari, Rabu (28/3), mengatakan, dari 1.000 remaja berusia 15-19 tahun, 44 di antaranya pernah hamil dan menikah.

Kondisi ini tergambar berdasarkan hasil survei Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2017. Kehamilan usia kurang dari 21 tahun ini sangat berisiko pada kematian.

“Ada kehamilan berisiko yang kurang dari usia 21 tahun itu mencapai 23 persen. Tetapi di beberapa kabupaten masih mencapai 38 persen. Meski sebenarnya rata-rata usia pernikahan di Papua Barat 21 tahun, tetapi disparitas antarkabupaten/kota masih tinggi, ujar Benyamin.

Menurutnya, remaja perlu memiliki pengetahuan memadai tentang dampak buruk pernikahan dini, hubungan seksual pranikah dan napsah.

Melalui program berencana, remaja diharapkan mampu memproteksi diri serta merencanakan masa depan menjadi generasi yang sehat, ceria, terhindar dari infeksi menular seksual dan narkoba.

Cerdas, memiliki pendidikan setinggi mungkin, mampu bersaing di dunia kerja, tandasnya.

Ia menyebutkan, implementasi Program Kependudukan dan KB di daerah tersebut diarahkan agar dapat memberikan kontribusi optimal bagi upaya pemerintah dalam mencapai visi dan misi khususnya meningkatkan pelayanan dasar di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, perlindungan perempuan dan anak untuk mewujudkan Papua Barat yang aman, sejahtera dan bermartabat.

Program kependudukan dan pembangunan KB di Papua Barat, lanjut Benyamin Lado, mengembangkan kebijakan edukasi, perencanaan kehamilan sehat, penerapan pola asuh tumbuh kembang balita dan remaja.

Program ini dilaksanakan dengan mengembangkan kemitraan berbasis komunitas demi meningkatkan kesadaran setiap keluarga serta merencanakan jumlah anak sesuai kemampuan keluarga.

Kondisi ini memberi dorongan kepada setiap keluarga, setiap ibu agar terhindar dari ancaman kematian karena kondisi hamil dan melahirkan, tandasnya.

Benyamin mengungkapkan, dari hasil survei terdapat kehamilan yang tidak diinginkan.

Ibu-ibu yang tidak ingin hamil lagi ternyata masih hamil, itu posisinya 8,3 persen. Ada juga kehamilan berisiko usia kurang dari 21 tahun, sebutnya Balita perlu mendapatkan asupan gizi melalui pemberian ASI ekskulisif dan lengkap selama 2 tahun, sehingga pertumbuhan otak menjadi optimal serta memiliki daya tahan hidup lebih baik.

Ini berpengaruh pada usia harapan hidup, pungkasnya. (Ant/SU02)

Langganan berita lewat Telegram
loading...
Loading...
BACA JUGA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU