Tahun Depan, Sahur on the Road Diharapkan Jadi Acara Resmi Pemprov DKI

1
195
sotr, sahur on the road
Ilustrasi kegiatan Sahur on the Road, berbagi dengan kaum dhuafa. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Senator Jakarta Fahira Idris menyebut Sahur on the Road (SOTR) sebagai bentuk syiar agama dengan membagikan makanan dan sahur bersama dengan kaum dhuafa menjadi kegiatan yang sangat bermanfaat membentuk karakter terutama generasi muda untuk lebih mempunyai rasa empati, peduli sesama, dan gotong royong.

Menurut Fahira, pelarangan total kegiatan SOTR hanya dikarenakan ada segelintir oknum yang berkonvoi motor pada jam-jam sahur dan melakukan tindakan yang melanggar hukum, sama sekali tidak bijak.

SOTR jika dijadikan kegiatan resmi, diorganisir dan motodenya diubah, menurut Fahira, bisa menjadi ajang yang tepat membentuk karakter generasi muda agar lebih peka dan punya jiwa gotong royong. Metode yang dapat dilakukan tidak hanya membagi makanan dengan kaum dhuafa yang ada di jalanan, tetapi juga mengantarkan makanan dan sahur bersama di panti-panti asuhan, panti jompo, panti sosial, atau ke lokasi-lokasi yang warganya perlu mendapat bantuan misalnya di kampung-kampung bekas penggusuran.

“Kalau kepala daerah yang bijak, dia akan mengorganisir SOTR menjadi kegiatan resmi karena banyak nilai yang bisa diambil. Bukan melarang sama sekali. Biarkan generasi muda kita berinteraksi dengan saudara-saudaranya yang kurang beruntung. Saya berharap Anies-Sandi, tahun depan adakan SOTR yang resmi dan terorginisir dengan baik. Nah, jika nanti ada yang melakukan SOTR di luar yang digelar Pemprov apalagi melanggar hukum, ditindak tegas,” ujar Fahira Idris, melalui siaran pers, Selasa (30/5).

Menurut Fahira, SOTR adalah istilah yang dipakai karena memang aktivitasnya membagi dan mengantarkan makanan sahur kepada para dhuafa yang kerena ketidakmampuannya harus tidur di jalanan. Pembagian makanan biasanya menggunakan motor atau mobil.

Lebih lanjut Fahira menambahkan, jika ada gerombolan yang berkonvoi, membut kericuhan, bahkan melanggar hukum di jam-jam sahur atau dini hari, itu bukan SOTR, karena niatnya bukan syiar Ramadhan dan memang harus ditindak tegas.

“Kalau pertandingan sepakbola terjadi bentrok antarpendukung, lantas apa pertandingan sepakbolanya kita larang? Kegiatan yang punya niat baik dan tulus ini harus difasilitasi. Harus diingat, tugas kepala daerah juga membina dan membentuk karakter anak muda di daerahnya. Jika dijadikan event resmi, saya yakin ekses-ekses negatif SOTR bisa hilang,” pungkas Wakil Ketua Komite III DPD ini.

Sebelumnya diberitakan, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat, tahun ini melarang kegiatan Sahur on the Road yang biasanya digelar pada bulan Ramadhan oleh sebagian masyarakat, di wilayah DKI Jakarta. Ia pun mempertanyakan manfaat dan tujuan dari digelarnya kegiatan yang menurutnya hanya dilakukan untuk sekedar berkeliling kota saja. (IwanY)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU