Pauli: Limbah Bisa Ciptakan Jutaan Lapangan Pekerjaan

0
71
Ekonomi biru (ilustrasi)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Penemu konsep ekonomi biru atau “blue economy” Profesor Gunter Pauli mengatakan hanya dengan limbah produk saja bisa menciptakan jutaan pekerjaan.

“Kami punya 200 proyek percontohan di seluruh dunia, yang mana proyek ini memobilisasi investasi senilai Rp5 miliar dolar AS dan menciptakan tiga juta lapangan pekerjaan di seluruh dunia,” ujar Pauli dalam seminar Ekonomi Biru yang diselenggarakan oleh Universitas Trilogi, di Jakarta, Jumat (26/1).

Dengan demikian, lanjut Pauli, konsep ekonomi biru sendiri telah bekerja dan berhasil menciptaan jutaan lapangan pekerjaan hanya dengan produk pembersih yang berasal dari olahan jeruk.

Loading...

Produk itu bisa digunakan untuk membuang racun dalam tubuh juga untuk pembersih rumah. Bahan baku yang dibutuhkan hanya jus jeruk murni, satu liter air dan tujuh sendok gula dan dalam waktu dua minggu, produk pembersih tersebut bisa digunakan. Hal seperti itu sudah dilakukan sekitar 250 tahun di Brussel, Belgia.

Pauli juga menilai, Indonesia sangat cocok menerapkan konsep ekonomi biru karena merupakan negara perairan, memiliki sinar matahari yang cukup dan juga daratan.

“Contohnya Indonesia produsen kopi, dari limbah kopi itu bisa digunakan untuk jamur dan kemudian digunakan lagi untuk daging ayam. Lalu kenapa kita tidak buat di perkebunan kopi, kita bisa dapat kopi, jamur, daging ayam hingga telur. Kami berhasil menciptakan 300.000 pekerjaan hanya dari limbah kopi saja,” papar dia.

Menurut dia, untuk menerapkan ekonomi biru perlu dukungan banyak pihak mulai dari lintas kementerian mulai dari tenaga kerja, kelautan, kehutanan, maupun ekonomi.

“Langkah awal yang harus dilakukan adalah menginventarisir peluang yang ada. Saya kira, media, politisi maupun pebisnis harus mulai berorientasi pada penyelesaian masalah.” Sementara itu, Rektor Universitas Trilogi Dr Aam Bastaman, mengatakan konsep ekonomi biru lebih mudah diimplementasikan karena membumi dan juga murah.

“Hal ini berbeda dengan konsep ekonomi hijau yang tidak murah serta tidak cocok untuk semua, karena hanya cocok untuk kalangan ekonomi mapan,” kata Aam.

Konsep ekonomi biru, lanjut Aam, selain bagus untuk ekosistem, tidak merusak, berkesinambungan, dan semuanya berasal dari sumber daya lokal.

“Di kampus, kami sudah menerapkannya dengan bekerja sama dengan produsen mesin tempe. Dari tempe ternyata bisa diolah jadi susu, kemudian ampasnya menjadi susu kedelai, selanjutnya kecap. Dari satu produk, kita bisa menghasilkan banyak subproduk dan tentu saja tidak menimbulkan sampah,” papar Aam.

Ke depan, Aam berharap konsep ekonomi seperti ini bisa diterapkan oleh masyarakat banyak, sehingga berdaya secara ekonomi dan juga tak ada limbah yang tersisa. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU