Indonesia Berpotensi Jadi Pelaku Diplomasi Kesehatan Global

0
71
Diplomasi (ilustrasi)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Indonesia berpotensi menjadi pelaku penting diplomasi kesehatan global menyusul keberhasilan Indonesia dalam memperoleh akses vaksin H5N1 pada 2008, kata Makarim Wibisono, mantan Wakil Tetap RI untuk Markas Besar PBB di Jenewa.

“Merujuk pada keberhasilan Indonesia dalam memperoleh akses vaksin H5N1 pada 2008, Indonesia memiliki potensi strategis untuk menjadi pemimpin dalam mengubah sistem kesehatan global yang lebih adil dan setara,” ujar Makarim dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Selasa (6/3).

Pernyataan tersebut dia sampaikan pada kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Strategi Diplomasi Kesehatan Indonesia dalam Konteks Global” yang diadakan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral Kementerian Luar Negeri di Depok, Jawa Barat.

Loading...

Kegiatan FGD itu merupakan bagian dari rangkaian proses penyusunan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi panduan bagi Kementerian Luar Negeri dan pemangku kepentingan lainnya untuk menjalankan diplomasi kesehatan.

Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 90 peserta, yang terdiri dari mahasiswa, pelaku kesehatan, pejabat pemerintah, dan kalangan masyarakat.

Pembicara-pembicara lainnya yang hadir pada kegiatan itu adalah Direktur Utama Bio Farma M. Rahman Rustam, pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Adik Wibowo yang juga mantan direktur WHO untuk Nepal dan Myanmar, dan pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Syarifah Liza Munira.

Pada kesempatan itu, Dubes Makarim juga menyampaikan bahwa Indonesia harus terus menegaskan bahwa virus adalah bagian dari kedaulatan sehingga pembagian manfaat dari penelitian dan produksi virus adalah hak yang harus dinikmati negara berkembang.

Untuk memperjuangkan hal itu, menurut dia, diplomasi kesehatan harus dilaksanakan lebih dari sekadar diplomasi tradisional. Untuk itu, diplomasi kesehatan harus melibatkan berbagai aktor dalam negeri mengingat banyaknya isu-isu kesehatan yang bersifat teknis dan ilmiah yang perlu diselaraskan dengan kegiatan diplomasi.

Adik Wibowo, mantan direktur WHO untuk Nepal dan Myanmar, menyarankan perlunya Indonesia memelopori kolaborasi internasional untuk bersama-sama dengan negara lain meningkatkan kapasitas kesiapan nasional dalam menghadapi pandemik.

Terkait hal itu, menurut Adik, isu kesehatan perlu diintegrasikan dengan sistem pertahanan nasional sehingga sinergi antara instansi pemerintah pusat, daerah, TNI, dan Polri dapat lebih diintensifkan.

Peran strategis Indonesia sebenarnya telah terlihat dari kontribusi Bio Farma yang saat ini menjadi penyedia dua pertiga dari seluruh kebutuhan vaksin polio global.

Dirut Biofarma M. Rahman Rustam menjelaskan bahwa hambatan dalam pengembangan teknologi vaksin yang berkaitan dengan pembatasan hak paten tetap harus menjadi fokus diplomasi kesehatan Indonesia. Apalagi, memang produksi vaksin dunia masih didominasi oleh perusahaan multinasional dari negara maju.

Selain itu, Indonesia juga perlu menjajaki hal baru, misalnya promosi diplomasi ekonomi di bidang kesehatan. Bio Farma saat ini telah menjadi pusat keunggulan dalam produksi vaksin bagi negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Dalam hal itu, anggota OKI dan negara-negara berkembang dapat menjadi pasar potensial produk vaksin Indonesia.

Indonesia memang memiliki pengalaman untuk menjadi pemasok vaksin global. Akan tetapi, untuk mempromosikan produk vaksin Indonesia pada pasar global, Indonesia perlu mendorong keberlanjutan produksi, yang perlu direncanakan secara komprehensif oleh berbagai pemangku kepentingan. (Ant/SU02)

loading...

TERBARU