PVMBG Pantau Kandungan Gas SO2 Gunung Agung

0
64
Gunung Agung erupsi
Gunung Agung meletus dengan tinggi 3.000 m pada 26/11/2017 pukul 22 WITA. (Foto: Dok BNPB)

KARANGASEM, SERUJI.CO.ID – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau kandungan gas magmatik sulfur dioksida (SO2) yang keluar dari permukaan kawah Gunung Agung, menggunakan alat minidoas.

“Sampai saat ini, kami terus memantau gas-gas magmatik (CO2, SO2 dan lainnya) Gunung Agung ini yang semakin dekat kepermukaan kawah,” kata Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, saat ditemui di Pos Pantau Gunung Agung, Karangasem, Rabu (29/11).

Ia menuturkan, berdasarkan pengukuran kandungan gas magmatik sebelum terjadinya erupsi pada Selasa (28/11) lalu. Pada Pukul 10.00 Wita, petugas PVMBG menemukan kandungan material dalam magma mencapai 2.000 hingga 3.000 ton per harinya.

Loading...

Selain itu, dalam pengamatan satelit NASA modis, terlihat letusan Gunung Agung menghasilkan SO2 yang sangat signifikan atau cukup besar.

“Saat melakukan pengukuran gas magmatik sulfur dioksida (SO2) yang telah keluar dari permukaan kawah dan terurai, tim langsung mengukurnya,” ujarnya.

Ia mengatakan, apabila magma yang mengandung SO2 ini berada di kedalaman yang dangkal, maka potensi ke depannya masih sangat memungkinkan terjadi erupsi susulan.

“Bahaya gas SO2 ini saat terjadinya erupsi akan berdampak pada lontaran material magmatik hingga radius delapan kilometer hingga perluasan sektoral sepuluh kilometer,” ujarnya.

Namun, yang lebih berbahaya apabila menghirup gas karbondioksida (CO2) karena zat itu tidak berbau dan berwarna. Namun, gas ini berada di dekat aktivitas vulkaniknya.

Ia menceritakan, seperti kejadian di Gunung Nios, Kamerun terjadi kematian masal disalah satu desa akibat menghirup gas CO2 ini yang dikeluarkan dari puncak gunung.

Kemudian, saat udara lembab udara ini bisa turun ke pemukiman sehingga terhiruplah oleh warga sekitar.

“Oleh karenanya, gas magmatik CO2 dari gunung memiliki massa yang sangat berat dibandingkan dengan udara sekitarnya, CO2 ini bisa kontak dengan udara lembab,” ujarnya.

“Nah, untuk Gunung Agung ini, sampai saat ini belum ada menandakan mengeluarkan zat CO2 dari puncak gunung, karena angin bertiup lumacan kencang sehingga suhu udara tidak lembab,” ujarnya. (Ant/SU02)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU