Kemenlu Malaysia Rilis Penurunan Status Gunung Agung

KUALA LUMPUR, SERUJI.CO.ID – Kementrian Luar Negeri Malaysia, Selasa (13/2), merilis penurunan status Gunung Agung di Provinsi Bali kepada media lokal dan internasional yang ada di Malaysia.

“Status keselamatan Gunung Agung di Bali telah diturunkan dari Tahap IV (Awas) kepada Tahap III (Siaga) pada 10 Februari 2018,” ujar Juru Bicara Kemenlu Malaysia, Datin Nirvana Jalil Gani di Kuala Lumpur.

Dia mengatakan radius kawasan berbahaya juga telah dikurangkan dari 6 kilometer ke 4 kilometer.

“Walau bagaimanapun status keamanan Gunung Agung tersebut bisa berubah dalam waktu yang singkat, pihak pemerintah Indonesia telah memberi peringatan terhadap kemungkinan evakuasi sekiranya status keamanan itu meningkat,” katanya.

Dia mengatakan rakyat Malaysia diimbau supaya mengambil langkah berjaga-jaga untuk keselamatan diri, mengikuti perkembangan berita setempat dan mematuhi arahan dari pihak-pihak terkait di Indonesia.

“Warga Malaysia yang memerlukan bantuan konsuler bisa menghubungi Kantor Konsulat Kehormatan Malaysia di Bali melalui e-mail balihcmalaysia@gmail.com atau Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta melalui e-mail mwjakarta@kln.gov.my atau panggilan telepon ke nomer +62215224947 dan +6281380813036,” katanya.

Sementara itu sejumlah pengungsi yang terdampak aktivitas vulkanik Gunung Agung mulai pulang kembali ke kampung halamannya secara mandiri dengan meninggalkan Posko Pengungsian GOR Swecapura, Klungkung, Bali, Ahad (11/2).

Kepulangan warga pengungsi tersebut sesuai dengan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terkait penurunan status Gunung Agung dari Level IV (Awas) ke Level III Siaga) yang dikeluarkan Sabtu (10/2) pukul 09.00 Wita.

Sejumlah pengungsi sejak Minggu pagi tampak mengangkuti barang-barang mereka selama mengungsi seperti pakaian, televisi, alat memasak, bahkan sepeda motor ke atas kendaraan truk dan mobil bak terbuka. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Yang Manusiawi

Pertanyaannya mengapa hasil Islamicity Index berdasarkan arahan kitab suci Alquran hasilnya tak banyak beda dengan World Happiness Index. Pada dasarnya nilai terbaik dari agama Islam, sebagaimana agama lain, jika diuniversalkan, itu sama dengan aneka nilai manusiawi yang dirumuskan oleh peradaban mutakhir. Nilai yang Islami itu ternyata juga nilai yang manusiawi. Itulah ruang publik yang universal yang bisa dinikmati semua manusia, apapun agama dan keyakinannya.

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER

Cerita Hamzah Izzulhaq, Pengusaha di Bidang Pendidikan Yang Sukses di Usia Muda

Meski terbilang sukses di usia muda, nyatanya perjuangan Hamzah Izzulhaq tidaklah mudah.

Lima Macam Riba Yang Diharamkam